This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Laman

Penelitian Computer Based Learning


Pendahuluan
Mary Alice White (1987) mengutarakan bahwa “what we need to do, then, is to educate as tough this technological revolution is what it really is—the third learning revolution—the most important change in learning since the 16th Century”. Tidak berlebihan rasanya jika adanya revolusi dalam belajar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang banyak menarik perhatian khalayak dalam dunia pendidikan pada abad ke 20 adalah kemunculan komputer.
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut perintah yang telah dirumuskan. Memang, fungsi komputer adalah untuk mengolah informasi, baik itu yang bersifat matematis maupun nonmatematis. Komputer awalnya memang menarik perhatian, tapi komputer generasi pertama (era 1940an) penggunaannya baru sebatas untuk tujuan militer atau intelejen. Ini terkait dengan situasi politik pada perang dunia II. Butuh biaya yang sangat besar untuk mempunyai komputer, dan juga diperlukan ruangan khusus sebagai tempat mesin komputer itu sendiri. Pada era 1948an, komputer generasi kedua muncul yang dimotori oleh penemuan transistor. Dengan ditemukannya transistor, ukuran mesin komputer menciut sehingga biaya manufakturingnya murah. Komputer jadi semakin affordable. Karena itu komputer mulai merambah institusi lain di luar pemerintah dan mulai digunakan juga di universitas. Komputer juga sudah terhubung dengan printer, dan media penyimpan data eksternal disket.
Kembali ke topik revolusi belajar, kita tahu bahwa teknologi pendidikan merupakan disiplin yang selalu jeli memandang perkembangan zaman dan teknologi. Selalu akan ada peluang bahwa teknologi bisa dimanfaatkan untuk tujuan ‘belajar’. Dan, mulailah diadakan penelitian-penelitian terkait dengan penggunaan komputer dalam dunia instruksional.
Penelitian berkaitan dengan penggunaan komputer dalam pendidikan pada akhir abad 20 nyatanya melalui proses yang lumayan panjang. Ada beberapa tahap yang harus dilewati, dengan berbagai hasil penelitian dan kritik yang menyertainya. Dalam masa-masa itu peneliti berupaya menemukan makna relasi komputer dan fasilitasi belajar. Seiring dengan penelitian-penelitian tersebut, beragam istilah yang berhubungan dengan penggunaan komputer dalam pendidikan muncul. Misalnya CAI (computer assisted learning), CBI (computer based instruction), CBL (computer based learning), CBE (computer based education), dan CAL (computer assisted learning). Penelitian tentang penggunaan komputer dalam pendidikan disebut-sebut sebagai penelitian CBL. Lalu, berbagai pertanyaan kemudian menyeruak. Apakah istilah-istilah lain (CAI, CBI, CBE, CAL) berbeda dengan CBL? Apakah istilah CBL memang pantas disematkan untuk mewakili ladang  penelitian ini? Lalu, bagaimana penelitian CBL ini kemudian berjalan?
Pembahasan
Terdapat perbedaan pengertian pada terminasi CAI, CBI, CBL, CBE, CAL. Berikut ini merupakan penjabarannya.
v  CAI (computer assisted learning)
CAI dikonotasikan sebagai pendekatan belajar terprogram yang tujuan pendidikannya diraih melalui pengajaran langkah demi langkah. Seringkali CAI diartikan sebagai komputer yang menyampaikan informasi pada siswa. CAI menuntun siswa untuk menggunakan komputer di kelas baik dalam hal tutorial software maupun drill and practice.
v  CBI (computer based instruction)
CBI (Computer based Instruction) adalah sebuah pembelajaran terprogram yang menggunakan komputer sebagai sarana utama atau alat bantu yang mengkomunikasikan materi kepada siswa. Banyak yang menyamakan metode CBI dengan CAI (Computer Assisted Instruction) padahal sebenarnya metode tersebut merupakan 2 buah metode yang berbeda. Perbedaan yang mendasar terdapat pada penggunaan multimedia belajarnya. Pada CAI peran guru tidak semuanya dihilangkan dan komputer hanya beperan sebagai pendamping guru dalam menyampaikan materi, tidak halnya dengan CBI pada CBI komputer menjadi pusat pembelajaran (center of learning) dimana siswa berperan lebih aktif dalam mempelajari suatu materi dengan media utama komputer.
v  CBL (computer based learning)
CBL merupakan istilah yang menjelaskan segala aktifitas belajar siswa yang terkait dengan penggunaan komputer. Istilah ini dikenali secara umum karena situasi belajar menggunakan komputer dalam CBL, komputer tersebut digunakan sebagai alat pendidikan, tapi tidak mengantarkan informasi maupun mengajar siswa. CBL lebih pada istilah umum tentang aplikasi komputer di sekolah.
v  CBE (computer based education)
Computer based education merujuk pada penggunaan komputer sebagai acuan utama dalam pendidikan. Pendidikan ini dalam arti luas, berbeda dengan istilah pembelajaran dan pengajaran yang berarti sempit. Pendidikan di sini dapat merujuk pada level-level dalam pendidikan, misalnya SD, SMP, Universitas, dsb.
v  CAL (computer assisted learning)
Menurut Martiningsih (2007) computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Misalnya, penggunaan komputer untuk mempresentasikan materi belajar, tutorial dan umpan balik kemajuan belajar siswa. CAL ini juga  sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran terhadap proses belajar dan mengajar yang bertujuan membantu siswa dalam belajarnya bisa melalui pola interaksi dua arah melalui terminal komputer mau pun multi arah yang diperluas melalui jaringan komputer (baik lokal mau pun global) dan juga diperluas fungsinya melalui interface (antar muka) multimedia.
Istilah CBL lebih sesuai untuk mewakili ranah penelitian penggunaan komputer untuk pendidikan. Dari istilahnya saja, computer based learning, segala sesuatu yang berkaitan dengan belajar dengan penggunaan komputer sebagai acuan utama, sudah meliputi berbagai istilah-istilah lainnya yang mempunyai pengertian lebih spesifik.
Tahap-tahap penelitian CBL
Penelitian awal
Pada penelitian awal CBL, kajian sengaja difokuskan pada ‘komputer’ sebagai variabel independen dan komputer sendirian dianggap dapat mempengaruhi proses belajar. Clark (1985) menungkapkan bahwa penelitian awal tentang CBL mengulangi kesalahan yang sama seperti pada penelitian awal perbandingan media. Kesalahan yang paling terlihat selain komputer sebagai variabel independen, juga kekurangtepatan alat ukur atau variabel pengukuran outcome dari suatu penelitian. (Haechan, Baker, 1989; Rebok, 1989; Shoenfeld, 1985).
Penelitian Lanjutan
Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, maka untuk perbaikan pada penelitian CBL selanjutnya para pakar membuat kategorisasi untuk CBL yang akan mempermudah dalam proses penelitian. Simonson & Thompson (1990) mengklasifikasikan aplikasi komputer berdasarkan tipe software, yaitu:
1.       Drill & practice
2.       Computer tutorial.
3.       Simulation
4.       Problem solving. Didesain untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar dan menggunakan kemampuan problem solving. Akan tetapi alat ukur yang digunakan hanya menilai konten pengetahuan, bukan kemampuan problem solving itu sendiri.
5.       Tool Software. Sheingold, Hawkins, & Kurland (1984) menyatakan tool software digunakan untuk meningkatkan pengajaran dan proses belajar di semua area subjek. Nyatanya sedikit sekali bukti empirik yang dapat membuktikan hal itu.
6.       Computer manage instruction (CMI). Banyak pendidik menyarankan CMI sbg langkah pertama dalam proses pendidikan oleh guru.
Kategorisasi kedua diutarakan oleh Robert Taylor (1990). Ia menekankan bahwa komputer dapat digunakan sebagai 1) tutor, 2) alat/tool, 3) tutee. Konsep komputer sebagai tutee merupakan hal yang baru dan membutuhkan penjelasan. Taylor mengemukakan siswa dapat mengajar komputer menjadi tutor atau alat.
Kategorisasi ketiga yang cenderung disebut taksonomi dikemukakan oleh Rex Thomas dan Peter Boysen. Pada sistem kategorisasinya, program yang sama pada CBL bisa diklasifikasikan pada area yang berbeda tergantung pada bagaimana guru menggunakan program dalam pengajaran.
1.       Termed experiencing
2.       Termed informing
3.       Reinforcing programs
4.       Integrating programs
5.       Utilizing
Sistem kategorisasi Thomas dan Boysen mencoba membangun respek pembelajar terhadap materi atau program dalam CBL. Hingga mislanya dapat memunculkan pertanyaan: apakah simulasi lebih baik digunakan pada level experiencing ataukah pada level integrating?
Kategorisasi terakhir diungkapkan oleh Dede (1987). Ia berpendapat di masa depan software pendidikan akan dapat mempunyai ‘peningkat kognisi’ yang memungkinkana manusia meningkatkan kognisinya melalui aplikasi komputer. Peningkat kognisi yang dimaksud adalah:
1.       Empowering environment
2.       Hypermedia
3.       Microworlds
Semua sistem kategorisasi yang diajukan pakar membantu menyediakan arah secara spesifik tentnag variabel independent dalam penelitian CBL. Tentu, semua sistem kategorisasi mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Penelitian meta-analitik
Penelitian meta-analisis didesain untuk meringkas dan mensistesis penemuan penelitian dalam area penelitian tertentu. Kulik, Bangert dan Williams menyelesaikan tiga penelitian meta-analitik yang cukup luas mengenai CBL (Kulik saja) dan CBE di sekolah. Kulik menyimpulkan bahwa pendekatan komputer sangat efektif untuk siswa SD dan juga efektif untuk mahasiswa. Ia juga menyimpulkan bahwa pendekatan CBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa, menghemat waktu guru dan siswa, meningkatkan sikap (respek) terhadap sekolah dan subjek tertentu. pendapatnya ini sering dianggap sebagai rujuakan bahwa pendekatan CBL memang benar-benar efektif.
Kelemahannya, metodologi yang Kulik gunakan banyak mendapat kritikan. Terutama karena penelitian yang Kulik review diadakan sebelum mikrokomputer menyebar secara luas di sekolah-sekolah. Penelitiannya seharusnya terkait dengan situasi saat mikrokomputer sudah menyebar dan digunakan secara luas di sekolah.
Setelah Kulik, MD. Robyler (1988)  mengemukakan penelitian yang menyempurnakan hasil penelitian dari Kulik sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa aplikasi komputer memang efektif untuk mengajar matematika daripada mengajar membaca dan keterampilan bahasa. Hasil penelitiannya yang lain, ia menyimpulkan bahwa efek penggunaan komputer sangat tinggi pada mahasiswa dan sangat rendah pada siswa SMP. Hal ini berarti bahwa CBL akan sangat efektif bila diterapkan pada mahasiswa. Selain itu, ia mengemukakan terdapat perbedaan keefektifan penggunaan komputer pada perempuan dan laki-laki.
Kelemahan dari penelitian Kulik dan Robyler, penelitian yang mereka review rata-rata masih menggunakan variabel pengukuran yang berdasarkan ‘pengukuran prestasi berstandar’/standardized achievement measures yang sempat dikritik di awal-awal penelitian CBL. Di sisi lain, penelitian yang berfokus pada efek atribut tertentu dan penggunaan komputer pada outcome siswa tertentu, sulit dikombinasikan dan dianalisis.
Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif melaporkan ‘apa yang ada’ pada penggunaan komputer di sekolah telah menyediakan pengetahuan/wawasan yang berguna.
Becker melakukan penelitian beberapa kali tentang CBL di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Pada Pada penelitian terakhirnya Becker menyimpulkan bahwa ‘pemrosesan kata’ merupakan aktivitas belajar komputer yang paling umum di sekolah-sekolah AS.
Selain Becker, penelitian deskriptif dilakukan oleh Office of Technology Assessment (OTA) in 1988. OTA melaporkan bahwa meskipun teknologi interaktif tidak bisa menyelesaikan masalah pendidikan di AS, teknologi tersebut tetap memberikan kontribusi pada peningkatan dalam hal belajar. OTA menganjurkan agar penelitian yang dibutuhkan terjadi dengan baik, kerjasama yang dekat antara berbagai anggota komunitas penelitian dan ‘ruang kelas’ harus difasilitasi.
Pada isu desain CBL, Criswell (1989) mengungkapkan banyak peneliti berfokus pada pencarian titik paling efektif dalam mendesain pengalaman CBL untuk  siswa. Antarmuka siswa-komputer merupakan salah satu keunikan dari CBL. Penelitian mengenai monitor komputer juga dilakukan, termasuk oleh Galitz (1981).
Saran
Setelah melewati beberapa tahap dalam penelitian CBL, ada beberapa saran yang dikemukakan para peneliti sehubungan dengan kelemahan penelitiannya. Berikut merupaka beberapa anjuran tersebut:
1.       Penelitian lanjut pada efek pemrograman pengalaman dalam pengembangan keterampilan problem solving siswa.
2.       Penelitian lanjut penggunaan komputer dalam pengajaran menulis
3.       Penelitian lanjut pada simulasi dan microworlds untuk mengajar keterampilan problem solving yang lebih tinggi.
4.       Penelitian lanjut penggunaan alat untuk meningkatkan tugas belajar
5.       Penelitian lanjut pengembangan kurikulum baru dalam belajar bagaimana belajar.
Bagaimanapun, saran yang cukup relevan dengan keadaan saat ini adalah saran 3, 5. Saat ini, dengan kemajuan teknologi dan taraf pendidikan yang tinggi, serta globalisasi,  keterampilan problem solving yang tinggi sangat dibutuhkan. Karena itu, saran 3 sangat relevan. Sementara itu, saat ini tren dalam pendidikan adalah how to learn, sebagai upaya untuk mencetak output pendidikan yang bisa survive dan mandiri di tengah persaingan global, juga terhadap gonjang ganjingnya kurikulum di indonesia, maka saran no 5 juga relevan. Sementara itu saran yang lainnya terasa trivial jika dibandingkan dengan keadaan saat ini.


Daftar Pustaka
Thompson, A. D.,  Simonson, M. R. & Hargrave, C. P. 1992. Educational Technology: A Review of The Research. Washington: AECT
Riyanto,B. 2009. Pengembangan CAL ( Computer-Assisted Learning) untuk Pembelajaran Berpikir Matematika Tingkat Tinggi. Diakses dari http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29 / renc ana-tesis/
Nugroho, I. 2010. Computer Based Instruction (CBI). Diakses dari http://indrockz.blogspot.com/20 1 0 /07/computer-based-instruction-cbi.htm
0 komentar

TPers dan Kategori Adopte


         Inovasi dan Kategori Adopter
Inovasi merupakan suatu gagasan/ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau kalangan tertentu. inovasi bisa lahir dari tangan siapa saja dan kapan saja. Tentu saja inovasi diciptakan dengan harapan dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah. Inovasi juga lahir di berbagai bidang, khususnya pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, ada prodi khusus yaitu Teknologi Pendidikan yang tujuan mulia utamanya adalah memfasilitasi pembelajaran. Dengan kata lain teknologi pendidikan berupaya memecahkan masalah belajar, agar orang bisa belajar, entah itu dengan menggunakan cara tertentu, atau memanfaatkan sumber-sumber tertentu. selain itu, teknologi pendidikan juga selalu berupaya menghasilkan inovasi-inovasi di ranah pembelajaran atau pendidikan umumnya dalam rangka memudahkan orang untuk belajar. Apa saja inovasinya? Inovasi yang dihasilkan teknologi pendidikan tentu saja tak terhitung banyaknya. Tengoklah masa-masa awal penelitian media, hingga tren hypermedia. Dan kini ranah pembelajaran sudah menyentuh pada dunia berjaringan.
Bicara tentang inovasi, teknologi pendidikan sudah pasti harus bisa menghasilkan suatu inovasi, entah itu dengan cara discovery, invention, atau bahkan ATM, amati, tiru dan modifikasi. Menghasilkan inovasi saja tidak cukup. Inovasi harus ada yang mengadopsinya. Karena itu ada yang namanya difusi inovasi, serta para adopter yang mengadopsi inovasi. Para adopter ini dikategorikan secara khusus menjadi lima, yaitu innovator, early adopter, early majority, late majority, dan laggard. Namun, bagaimana dengan persepsi mahasiswa TP (TPers) sendiri mengenai pengkategorian ini? Jika mereka merupakan subjek dari suatu inovasi, kategori adopter mana yang sesuai dengan mereka pribadi?
Berikut ini merupakan hasil survey melalui internet review mengenai pendapat mahasiswa berkaitan dengan kategori adopter.
Tabel 1. TPers dalam Kategori Adopter

Dari tabel di atas tentang kategori adopter dari TPers, 10 orang adalah innovator. Delapan orang adalah early adopter, 10 orang early majority, dan 2 orang adalah late majority.


Grafik 1. TPers dalam Kategori Adopter

Dari grafik di atas tentang kategori adopter dari TPers, 10 orang adalah innovator. Delapan orang adalah early adopter, 10 orang early majority, dan 2 orang adalah late majority.


Grafik 2. TPers dalam Kategori Adopter

Dari diagram  di atas tentang kategori adopter dari TPers, 33% orang adalah innovator. 27% orang adalah early adopter, 33%  orang early majority, dan 7% orang adalah late majority.

Tabel 2. Alasan TPers dalam Kategorisasi Adopter


Dari tabel di atas diketahui alasan-alasan TPers dalam kategorisasi adopter,yaitu 6 orang berpendapat TPers cepat menerima inovasi. 11 orang berpendapat TPers mampu menghasilkan inovasi khususnya untuk memfasilitasi pembelajaran. 9 orang berpendapat dalam mengadopsi inovasi membutuhkan kompromi dan kehati-hatian. 2 orang berpendapat mengadopsi inovasi setelah kebanyakan orang sudah mencoba dan mengadopsi inovasi, dan 2 orang berpendapat TPers sebagai adopter adalah pelopor yang memperhatikan keuntungan dan kerugiaan atas inovasi.


Grafik 3. Alasan TPers dalam Kategorisasi Adopter

Grafik di atas menggambarkan kuantitas dari alasan-alasan TPers dalam kategorisasi adopter.


Grafik 3. Alasan TPers dalam Kategorisasi Adopter

Dari diagram di atas diketahui alasan-alasan TPers dalam kategorisasi adopter,yaitu 20% orang berpendapat TPers cepat menerima inovasi. 37% orang berpendapat TPers mampu menghasilkan inovasi khususnya untuk memfasilitasi pembelajaran. 30% orang berpendapat dalam mengadopsi inovasi membutuhkan kompromi dan kehati-hatian. 7% orang berpendapat mengadopsi inovasi setelah kebanyakan orang sudah mencoba dan mengadopsi inovasi, dan 7% orang berpendapat TPers sebagai adopter adalah pelopor yang memperhatikan keuntungan dan kerugiaan atas inovasi.

TPers dalam Kategori Adopter
Berdasarkan data di atas, dapat kita ketahui bahwa TPers dalam memosisikan dirinya dalam kategori adopter sebagi berikut. 33% orang memilih menjadi innovator. 27% orang menganggap dirinya early adopter, 33%  orang memilih aman menjadi early majority, dan 7% orang menganggap dirinya late majority. Dengan demikian mayoritas TPers lebih memosisikan dirinya sebagai innovator dan early majority. Rogers dalam penelitiannya menjabarkan ciri-ciri dari tiap kategori adopter ini. Jadi, dapat kita bayangkan mengapa TPers ini berbeda-beda dalam mengkategorikan dirinya pada tipe-tipe adopter inovasi.
Sementara itu, diketahui alasan-alasan TPers dalam kategorisasi adopter,yaitu 20% orang berpendapat TPers cepat menerima inovasi. 37% orang berpendapat TPers mampu menghasilkan inovasi khususnya untuk memfasilitasi pembelajaran. 30% orang berpendapat dalam mengadopsi inovasi membutuhkan kompromi dan kehati-hatian. 7% orang berpendapat mengadopsi inovasi setelah kebanyakan orang sudah mencoba dan mengadopsi inovasi, dan 7% orang berpendapat TPers sebagai adopter adalah pelopor yang memperhatikan keuntungan dan kerugiaan atas inovasi.
Pada data sebelumnya terlihat jelas bahwa sebagian TPers mengkategorikan dirinya sebagai innovator, bila setelah lulus nanti dari prodi TP. Dan alasan yang paling jamak dalam pengkategorian adopter ini adalah TPers mampu menghasilkan inovasi, khususnya untuk memfasilitasi pembelajaran. Sebagai innovator TPers berpikir bahwa mereka setidaknya harus menghasilkan sebuah inovasi dalam rangka memcahkan masalah belajar. Padahal dalam kategori adopter menurut Rogers, innovator merupakan individu yang pertama kali menerapkan inovasi, fresh from the oven, terlepas apakah dia inventor dari inovasi itu ataukah bukan. Menurut Rogers lagi, seorang innovator berani mengambil resiko kegagalan atas inovasi yang diadopsinya, dan tentu ia lebih open minded dan dekat dengan sumber-sumber pengetahuan.
Perbedaan mengenai pendapat TPers dalam mengkategorikan dirinya bisa disebabkan oleh hanya satu sebab, yaitu heterofilitas atau heterogenitas. Memang, TPers berada dalam jurusan yang sama, kelas yang sama, di ajar oleh dosen yang sama, tapi itu tidak berarti membuat mereka menjadi seragam dalam hal selera dan pikiran.  Dalam difusi inovasi sendiri dikenal istilah heterofili dan homofili. Hal yang paling menarik tentu saja heterofili. Meski orang-orang dalam heterofili berada pada wilayah/tempat yang sama, tetapi mereka mempunyai status sosial yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda (semisal suku, ras agama), tingkat pendidikan yang berbeda, bahkan perbedaan kebiasaan. Hal-hal semacam inilah yang membuat difusi inovasi menarik. Imbasnya adalah adanya kategori-kategori adopter. Innovator, early adopter, early majority, late majority, laggard, punya kekhasannya masing masing. Perbedaan kategori adopter ini malah akan memudahkan dalam penyususna strategi difusi inovasi yang tepat.
Dengan demikian dalam hal TPers dan kategori adopter, dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Pertama, mayoritas TPers mengkategorikan dirinya sebagai innovator dan early majority seiring dengan kenyataan bahwa ia akan terjun ke masyarakat sebagai lulusan TP. Kedua, alasan yang paling sering diungkapkan tentang kategorisasi ini adalah TPers mampu menghasilkan inovasi khususnya untuk memfasilitasi pembelajaran, serta dalam mengadopsi inovasi membutuhkan kompromi dan kehati-hatian. Ketiga, adanya perbedaan pendapat di antara TPers mengenai kategorisasi adopter ini karena unsur heterofilitas pada tiap-tiap TPers.

0 komentar

PETA PENELITIAN PENDIDIKAN KONSENTRASI PEMBELAJARAN PRODI TEKNOLOGI PENDIDIKAN


        Setiap tahun sejumlah skripsi dihasilkan di jurusan Teknologi Pendidikan oleh mahasiswanya sebagai syarat kelulusan. Skripsi yang disusun ini bermacam-macam jenisnya, tergantung minat dari mahasiswa yang menulisnya. Karena prodi TP mempunyai tiga konsentrasi, yaitu pengembang kinerja, pembelajaran, serta media, tidak mengherankan jika skripsi yang disusun digolongkan berdasarkan tiga konsentrasi tadi. Setidaknya mahasiswa di tiap konsentrasi yang berbeda dianjurkan menghasilkan skripsi yang sesuai dengan konsentrasinya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mata kuliah yang diambil di tiap konsentrasinya berbeda, kecuali mata kuliah wajib.
Menyusun skripsi meruapakan tugas akhir yang mendebarkan, tidak terkecuali bagi mahasiswa konsentrasi pembelajaran. Sejak skripsi yang merupakan karya tulis ilmiah dihasilkan melalui serangkaian penelitian, mau tidak mau mahasiswa harus melakukan penelitian terlebih dahulu. Sebelum melakukan penelitian tentu mahasiswa harus sudah mempertimbangkan masalah apa yang layak diangkat dan dipecahkan dalam kaca mata penelitian pembelajaran. Terkadang, menggarap sebuah skripsi yang berbau konsentrasi lain dapat menimbulkan kesukaran dalam penyusunannya. Hal ini bisa terjadi karena konsep dasar tiap konsentrasi tidak sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa, selain daripada konsentrasi yang diambilnya sendiri. Dengan kata lain, mahasiswa mendapat warning agar setidaknya jangan mengambil ladang penelitian konsentrasi lain. Demikian, tiap skripsi yang dihasilkan oleh mahasiswa prodi TP dapat dengan mudah diidentifikasi  karena mempunyai kekhasan tersendiri.
Mengenai garis besar tema penelitian skripsi pada konsentrasi pembelajaran, dapat dilihat dari berbagai jenis skripsi  yang dihasilkan tiap tahunnya. Dalam kesempatan ini, penulis menyertakan sampel tujuh judul penelitian skripsi mahasiswa prodi TP konsentrasi pembelajaran.

Tabel 1. Contoh Judul-judul Skripsi Mahasiswa Teknologi Pendidikan Konsentrasi Pengembang Pembelajaran


Dari tabel di atas, terlihat bahwa tema atau judul skripsi berkutat pada kurikulum, semisal kurikulum lembaga pendidikan, strategi, pendekatan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, serta pengelolaan pembelajaran.  Jadi, masalah-masalah penelitian yang dikemukakan sebagian besar tidak jauh dari belajar dan pembelajaran, apalagi kurikulum.
 Meski tema besar dari penelitian skripsi adalah kurikulum, tetapi banyak variabel lain yang dieksplorasi oleh mahasiswa. Misalnya saja pada isu pesantren dan homeschooling yang jarang disinggung dalam teknologi pendidikan. Selain itu, bisa jadi pada judul skripsi lain yang tidak disinggung disini mengandung beragam variabel yang variatif. Sementara itu, selama penulis menjelajahi lemari skripsi-skripsi mahasiswa pembelajaran, belum ditemukan variabel lain dalam penelitian yang dianggap melenceng dari pakem skripsi kepembelajaran dalam teknologi pendidikan. Nyatanya, selalu ada hal baru dan inovasi dalam teknologi pendidikan yang layak diteliti oleh mahasiswa konsentrasi pembelajaran.
Mayoritas mahasiswa konsentrasi pembelajaran walaupun bagian dari teknologi pendidikan yang mempunyai tiga konsentrasi yang bisa dieksplorasi, kebanyakan memilih penelitian berbau kurikulum untuk dijadikan skripsi. Tentu, hal ini bisa dimaklumi mengingat adalah keputusan mereka tenggelam lebih dalam konsentrasi pengembang pembelajaran, meski dua konsentrasi lainnya juga terhubung secara paralel dengannya. Selain itu, mahasiswa konsentrasi pengembang pembelajaran dianggap lebih kapabel dalam masalah-masalah pembelajaran, khususnya kurikulum. Hal ini wajar karena selama beberapa semester mereka telah mendalami mata kuliah-mata kuliah wajib konsentrasi.
Mengenai jenis penelitian, penelitian skripsi mahasiswa mayoritas merupakan jenis penelitian deskriptif dengan data kualitatif. Memang, isi penelitiannya berupa paparan atas masalah yang diteliti. Tetapi, sejak paradigma yang diambil adalah pascapositivistik, maka kajian penelitian skripsi mahasiswa disampaikan secara mendalam. Pascapositivistik mengharuskan peneliti menjelaskan bukan hanya kesimpulan singkat dari data-data kuantitatif, tetapi lebih dari pendalaman data-data kualitatif. Tentang pendekatan positivistik ini, tentu mahasiswa sebagai warga teknologi pendidikan sudah memahaminya melalui sejarah perkembangan teori-teori yang digunakan dalam kajian penelitian teknologi pendidikan. Dengan demikian, hasil penelitian skripsi ini tidak bisa digeneralisasikan untuk kasus penelitian lain.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, penulis perlu mengemukakan beberapa kesimpulan dari upaya pengidentifikasian penelitian skripsi mahasiswa konsentrasi pengembang pembelajaran. Pertama, masalah-masalah penelitian yang dikemukakan sebagian besar tidak jauh dari belajar dan pembelajaran, apalagi kurikulum. Kedua, meskipun tema besar dari penelitian skripsi adalah kurikulum, tetapi banyak variabel lain yang dieksplorasi oleh mahasiswa. Ketiga, mayoritas mahasiswa konsentrasi pembelajaran walaupun bagian dari teknologi pendidikan yang mempunyai tiga konsentrasi yang bisa dieksplorasi, kebanyakan memilih penelitian berbau kurikulum untuk dijadikan skripsi. Keempat, jenis penelitian, penelitian skripsi mahasiswa mayoritas merupakan jenis penelitian deskriptif dengan data kualitatif dan memakai pendekatan pascapositivistik.
Sebagai masukan, penulis menyarankan agar mahasiswa konsentrasi pengembang pembelajaran lebih kreatif dalam mengkaji variable penelitian pembelajaran lain dalam skripsinya. Lebih baik lagi jika terkait dengan kajian yang merupakan area penelitian dua konsentrasi lainnya. Tujuan utamanya, tentu saja demi memecahkan masalah belajar, melalui penelitian yang bermakna.

Penulis:
Lian Anggraini
Yesi Kartikasari
Zahrotul Uyun


0 komentar

Persepsi Mahasiswa Pogram Studi Teknologi Pendidikan tentang Inovasi dalam Forum Group Discussion pada Mata Kuliah Difusi Inovasi Pendidikan (Survei Pendapat Mahasiswa TP Kelas Reguler Semester 096)


 A.   Pendahuluan
Di abad 21 ini telah terjadi begitu banyak perubahan dan perkembangan peradaban. Juga, tidak terhitung banyaknya inovasi yang dihasilkan oleh manusia untuk keberlangsungan dan kemudahan hidupnya. Dalam dunia pendidikan, khususnya teknologi pendidikan pun dikenal istilah inovasi pendidikan. Bentuknya jenisnya bisa bermacam-macam, baik berupasoftware maupun hardware. Tujuan utamanya tentu demi kemaslahatan pembelajaran dan membelajarakan pembelajar.
Sudah menjadi fakta bahwa pada awal-awal Teknologi Pendidikan berdiri, inovasi yang dikembangkan oleh teknolog pendidikan bermula dari produk atau inovasi yang sama sekali bukan ditujukan untuk tujuan instruksional. Hal ini wajar saja karena dalam inovasi, suatu kebaruan itu bisa berlaku bagi kelompok tertentu yang baru mengetahuinya. Akan tetapi akan menjadi basi bila kelompok lain sudah mengetahui ‘kebaruan’ itu lebih dulu. Misalnya LCD proyektor awalnya digunakan untuk presentasi bisnis dan tujuan komersial lainnya. Tetapi di tangan teknolog LCD proyektor dijadikan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan dengan menggunakannya untuk pembelajaran.
Senada dengan hal tersebut, Facebook, sebuah situs web sekaligus jejaring sosial yang paling banyak pengguna aktifnya mempunyai atribut Group/forum yang dianggap bisa dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran. Ada berbagai alasan untuk tetap menggunakan facebook sebagai jejaring sosial mereka. Berikut ini merupakan alasan mengapa orang menggunakan facebook menurut Kurniawan (2009): 1) Populer. Karena efek halo yang ditimbulkan oleh kemunculan jejaring baru yang dianggap user friendly, keren, terutama baru, pengguna facebook bertambah banyak. Bagaimanapun, manusia selalu dipenuhi hasrat untuk mencoba hal baru dan tren baru. 2) Network, 3) Simple (user friendly dan interface sederhana), 4) Canggih, 5) Group (fasilitas untuk membuat grup/forum), 6) Photo Album, 7) Wall Facebook, 8) Event, 9) Mobile Access, 10) Mobile Browsing, 11) Selling, 12) Games, 13) Chatting,  serta 14) Widget.
Dengan adanya fasilitas forum diskusi dalam Group facebook, maka MK DIP mencoba menggunakan forum diskusi tersebut sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di luar jam kuliah. Melalui forum diskusi tersebut berbagai topik yang berkaitan dengan mata kuliah didiskusikan dan dibahas bersama. Terkait dengan mata kuliah yang berfokus pada inovasi, penulis mengemukakan pertanyaan apakah forum group discussion dalam MK DIP termasuk dalam bentuk inovasi atau bukan, menurut pendangan mahasiswa MK DIP itu sendiri.
Demi menyelidiki hal tersebut maka penulis menggunakan metode survei. Metode penulisan survei adalah salah satu teknik penulisan dengan mengumpulkan informasi pada individu (karakteristik/perilaku, sikap/pendapat) dari sekelompok responden yang representatif dalam suatu populasi. Tujuan survei sendiri adalah untuk mengakses dan mendeskripsikan pikiran, pendapat, dan perasaan orang dan menghasilkan deskripsi. Karena itu survei kali ini merupakan survei deskriptif, yaitu proses pemecahan masalah yang diselidiki dengan melukiskan atau menggambarkan keadaan subyek dan obyek penulisan saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya.
Survei ini dilakukan tentu saja dengan tujuan ingin mengetahui pendapat mahasiswa TP kelas reguler yang mengikuti MK DIP tentang inovasi pada forum group discussion MK DIP. Dengan demikian penulis berharap dapat mengetahui pendapat mahasiswa TP kelas reguler yang mengikuti MK DIP, tentang inovasi pada pada forum group discussion MK DIP.
Survei ini dilakukan pada mahasiswa kelas reguler yang mengikuti forum diskusi di facebook pada mata kuliah DIP semester 096. Secara keseluruhan anggota forum berjumlah 40 orang terdiri dari dua orang dosen pengampu dan 38 mahasiswa. Dengan demikian, populasi mahasiswa seluruhnya berjumlah 38. Pada survei ini, teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Karena itu sampel responden diambil sebanyak 38 orang mahasiswa dengan asumsi populasi mahasiswa sebanyak 38 orang. Survei ini sendiri dilakukan melalui teknik Internet interview. Dengan internet review ini penulis memberikan pertanyaan kuesioner secara online untuk meraih respon secara online pula dari responden.

B.   Hasil Survei
  
   Setelah melakukan survei, penulis mendapatkan hasil survei yang dapat disajikan sebagai berikut.


Tabel 1. Respon Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei


Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah mahasiswa yang menjawab sebanyak 28 orang, sementara mahasiswa yang tidak menjawab berjumlah 10 orang.



Grafik 1. Respon Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei


Grafik batang di atas mengilustrasikan tentang jumlah mahasiswa yang menjawab sebanyak 28 orang. Sementara itu jumlah mahasiswa yang tidak menjawab sebanyak 10 orang.


Grafik 2. Respon Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei

Pada grafik lingkaran di atas terlihat bahwa jumlah mahasiswa yang menjawab survei sebanyak 74% sementara sisanya 26% merupakan mahasiswa yang tidak menjawab.

Tabel 2. Klasifikasi Jawaban Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei


Dari tabel di atas terlihat bahwa mahasiswa yang menjawab YES untuk jawaban survei sebanyak 26 orang. Sebanyak 2 orang menjawab YES dan NO. Sementara itu tidak ada mahasiswa yang menjawab NO. Selain itu, ada 10 orang yang Tidak Menjawab.



Grafik 3. Klasifikasi Jawaban Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei

Dari ilustrasi grafik di atas terlihat bahwa mahasiswa yang menjawab YES untuk jawaban survei sebanyak 26 orang. Sebanyak 2 orang menjawab YES dan NO. Tidak ada mahasiswa yang menjawab NO. Sementara itu, ada 10 orang yang Tidak Menjawab.


Grafik 4. Klasifikasi Jawaban Mahasiswa Secara Keseluruhan terhadap Pertanyaan Survei

Grafik pie di atas menggambarkan klasifikasi jawaban mahasiswa dalam bentuk persentase. Dari ilustrasi grafik di atas terlihat bahwa mahasiswa yang menjawab YES untuk jawaban survei sebanyak 68%. Sebanyak 5,30%  menjawab YES dan NO. Mahasiswa yang menjawab NO adalah 0%. Sementara itu, ada 26% yang Tidak Menjawab.


Tabel 3. Klasifikasi Alasan Jawaban Mahasiswa terhadap Pertanyaan Survei


Tabel di atas berisi data hasil survei tentang alasan jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan survei. Untuk yang menjawab YES, sebanyak 6 orang menyatakan Forum Group Discussion MK DIP merupakan inovasi karena cara yang baru dan inovatif dan menyenangkan untuk belajar. 6 Orang yang lain menyatakan karena penggunaan media pembelajaran yang efisien. 1 orang menyatakan karena penggunaan media (jejaring sosial) u/ menyampaikan materi secara kontinyu. 1 orang yang lain menyatakan karena belajar melalui forum yang terus terupdate. 5 orang menyatakan karena mempermudah proses komunikasi dan pertukaran informasi. 2 orang menyatakan karena dapat membangkitkan minat belajar. 3 orang menyatakan karena strategi pembelajaran yang baru melalui fb (facebook). Sementara 2 orang lainnya menyatakan karena memenuhi karakteristik inovasi.
Untuk jawaban YES & NO, sebanyak 1 orang menjawab YES & NO karena YES: merupakan sesuatu yang baru dalam beajar, No: Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas. Sementara itu 1 orang lainnya menjawab YES & NO karena YES: Penggunaan media belajar yang efisien, NO: ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang.


Grafik 5. Klasifikasi Alasan Jawaban Mahasiswa terhadap Pertanyaan Survei

Grafik di atas berisi data hasil survei tentang alasan jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan survei dalam bentuk persentase. Untuk yang menjawab YES, sebanyak 21% orang menyatakan Forum Group Discussion MK DIP merupakan inovasi karena cara yang baru dan inovatif dan menyenangkan untuk belajar. 21% yang lain menyatakan karena penggunaan media pembelajaran yang efisien. 4% menyatakan karena penggunaan media (jejaring sosial) u/ menyampaikan materi secara kontinyu. 4% yang lain menyatakan karena belajar melalui forum yang terus terupdate. 18% menyatakan karena mempermudah proses komunikasi dan pertukaran informasi. 7% menyatakan karena dapat membangkitkan minat belajar. 11% menyatakan karena strategi pembelajaran yang baru melalui fb (facebook). Sementara 7% lainnya menyatakan karena memenuhi karakteristik inovasi.
Untuk jawaban YES & NO, sebanyak 4% menjawab YES & NO karena YES: merupakan sesuatu yang baru dalam beajar, No: Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas. Sementara itu 4% lainnya menjawab YES & NO karena YES: Penggunaan media belajar yang efisien, NO: ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang.

C.   Pembahasan
Reigeluth (Lee & Reigeluth, 1994) memandang inovasi sebagai perubahan yang mendalam dan kontinyu yang terjadi dalam dunia pendidikan. Misalnya tentang restrukturisasi di tingkat sekolah. Restrukturisasi  tersebut turut mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas, terutama dalam aspek bagaimana cara guru mengajar, cara siswa belajar, dan cara guru mengevaluasi hasil belajar siswa. Selain itu teknologi-teknologi komputer telah berhasil mengubah peran guru dari pemberi informasi ke peran fasilitator, konselor, advisor, pembimbing, pelatih, mentor, co-learner, sumber dan pengelola teknologi, dan mediator bagi para peserta didiknya.
Roger (2003) mendeskripsikan inovasi sebagai berikut, an innovation is an idea, practice, or project that is perceived as new by an individual or other unit of adoption. Menurutnya, lima atribut atau karakteristik yang wajib ada pada inovasi adalah relative advantages, compability, complexity, triability dan observability. Ia juga mengemukakan tentang beberapa elemen dari difusi inovasi, yaitu  inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial. Meski latar belakang Roger adalah seorang sosiolog, tapi teori-teorinya tentang inovasi dipakai secara umum.
Sementara itu mengenai Forum Group Discussion tidak banyak yang bisa dipaparkan. Tentu saja forum diskusi tersebut merupakan bagian atribut dari jejaring sosial facebook. Tentang persepsi, persepsi merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Misalnya seperti persepsi mahasiswa terhadap Forum Group Discussion pada MK DIP.
Kembali pada hasil survei, pada grafik lingkaran paling awal di atas tentang respon mahasiswa terhadap pertanyaan survei, terlihat bahwa jumlah mahasiswa yang menjawab survei sebanyak 74% sementara sisanya 26% merupakan mahasiswa yang tidak menjawab. Setelah pertanyaan survei dilempar, mayoritas mahasiswa menjawab, sementara sisanya  tidak menjawab. Tidak menjawab di sini berarti tidak ikut berpartisipasi dalam menjawab/merespon pertanyaan survei. Secara kasat mata, tingkat partisipasi mahasiswa dalam mengikuti survei cukup tinggi, lebih dari 50% jumlah populasi kelas reguler pada MK DIP.
Pada data klasifikasi jawaban mahasiswa, didapatkan hasil sebagai berikut:  mahasiswa yang menjawab YES untuk jawaban survei sebanyak 68%. Sebanyak 5,30%  mahasiswa menjawab YES dan NO. Mahasiswa yang menjawab NO adalah 0%. Di sisi lain, ada 26% mahasiswa yang Tidak Menjawab.
Ternyata mayoritas mahasiswa menyuarakan bahwa Forum Group Discussion MK DIP merupakan suatu inovasi. Tentang alasan mengapa mahasiswa menyebutnya inovasi, akan terjawab pada data berikutnya. Tidak ada mahasiswa yang 100% pure menyebut Forum Group Discussion sebagai bukan inovasi. Sementara itu ada sedikit sekali mahasiswa yang menjawab bahwa Forum Group Discussion bisa Iya dan Tidak disebut  sebagai inovasi. Tentu mahasiswa tersebut mempunyai alasan tersendiri menurut pengalamannya selama ini mempelajari konsep inovasi.
Data hasil survei terakhir merupakan alasan jawaban mahasiswa terhadap pertanyaan survei. Untuk yang menjawab YES, sebanyak 21% orang menyatakan Forum Group Discussion MK DIP merupakan inovasi karena cara yang baru dan inovatif dan menyenangkan untuk belajar. 21% yang lain menyatakan karena penggunaan media pembelajaran yang efisien. 4% menyatakan karena penggunaan media (jejaring sosial) u/ menyampaikan materi secara kontinyu. 4% yang lain menyatakan karena belajar melalui forum yang terus terupdate. 18% menyatakan karena mempermudah proses komunikasi dan pertukaran informasi. 7% menyatakan karena dapat membangkitkan minat belajar. 11% menyatakan karena strategi pembelajaran yang baru melalui fb (facebook). Sementara 7% lainnya menyatakan karena memenuhi karakteristik inovasi.
Untuk jawaban YES & NO, sebanyak 4% menjawab YES & NO karena YES: merupakan sesuatu yang baru dalam beajar, No: Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas. Sementara itu 4% lainnya menjawab YES & NO karena YES: Penggunaan media belajar yang efisien, NO: ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang.
Pada kubu mahasiswa yang menjawab YES (yang berarti Forum Group Discussion merupakan inovasi menurut mahasiswa tersebut), dapat diidentifikasi berbagai alasannya sebagai berikut: 1) cara yang baru dan inovatif dan menyenangkan untuk belajar. 2) penggunaan media pembelajaran yang efisien. 3) penggunaan media (jejaring sosial) u/ menyampaikan materi secara kontinyu. 4) belajar melalui forum yang terus terupdate. 5) mempermudah proses komunikasi dan pertukaran informasi. 6) dapat membangkitkan minat belajar. 7) strategi pembelajaran yang baru melalui fb (facebook). 8)  memenuhi karakteristik inovasi.
Alasan-alasan jawaban mahasiswa tersebut jika dibandingkan dengan teori inovasi menurut Roger dan Reigeluth, memang menyerupai konsep yang diutarakan dua praktisi tersebut. Bila harus diidentifikasikan lagi, alasan yang merujuk pada teori inovasi Roger adalah alasan nomor 1, 8, 5. Sementara alasan yang merujuk pada teori Inovasi menurut Reigeluth adalah alasan nomor 2, 3, 4, 6, 7.
Sementara pada kubu YES & NO alasannya adalah sebagai berikut: 1) YES: merupakan sesuatu yang baru dalam beajar, No: Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas. 2) YES: Penggunaan media belajar yang efisien, NO: ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang.
Pada kubu YES dan NO, mahasiswa memang menganggap bahwa Forum Group Discussion bisa saja merupakan inovasi. Tetapi ternyata ada hal-hal tertentu yang membuat Forum Group Discussion bukanlah sebuah inovasi secara utuh. Hal ini terlihat dari alasan Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas & ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang. Alasan Forum ini tidak dikembangkan secara terencana dan mendalam serta tidak ada kontinuitas menurut mahasiswa ini membuat inovasi forum diskusi tidak sesuai dengan teori inovasi menurut Reigeluth. Pada alasan ketiadaan tools dan jaringan dapat membuat forum ini tidak terakses bagi sebagian orang menjelaskan bahwa dalam Forum Group Discussion tidak memenuhi aspek complexity yang merupakan atribut dari inovasi. Rogers (2003) mendefinisikan complexity sebagai “the degree to which an innovation is perceived as relatively difficult to understand and use”. Forum Group Discussion memang mudah dan cukup sederhana untuk dimengerti.  Setiap orang yang punya akun facebook pasti bisa menggunakannya. Akan tetapi akan sulit digunakan jika ada sukar digunakan jika terdapat rintangan dalam menggunakannya. Ketiadaan tools yang sesuai, serta jaringan internet untuk mengaksesnya membuat Forum Group Discussion relatif tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh mahasiswa.


D.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, penulis dapat mengemukakan beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, tingkat partisipasi mahasiswa dalam survei cukup tinggi. Hal ini karena mayoritas mahasiswa merespon pertanyaan survei. Kedua, meski ada minoritas mahasiswa yang beranggapan Forum Group Discussion bukanlah suatu inovasi, mayoritas mahasiswa memersepsikan Forum Group Discussion pada MK DIP sebagai sebuah inovasi. Alasan yang dikemukakan terhadap hal ini bermacam-macam, tetapi tidak jauh dari teori-teori inovasi yang dikemukakan oleh Roger dan Reigeluth. Tentunya hal tersebut sesuai dengan pengalaman belajar mahasiswa selama mengikuti MK DIP.
Sedangkan saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah: pertama, mahasiswa agar senantiasa aktif mengikuti Forum Group Discussion. Jumlah partisipan survei yang hanya 70an persen masih kalah dari jumlah partisipasi mata kuliah lain yang hampir mencapai 90an persen, dengan jumlah mahasiswa yang lebih banyak pula. Kedua, Forum Group Discussion agar terus berlanjut meski kuliah sudah selesai. Pertukaran informasi mengenai inovasi dalam pendidikan bisa terus bersemi di forum ini. Ketiga, mahasiswa dalam mengikuti diskusi hendaknya mencari literatur yang lebih banyak serta mengkajinya lebih dalam sehingga tidak akan terjadi kopasus dan komentar yang shallow. Keempat, jika terdapat keterbatasan-keterbatasan dalam mengakses forum diskusi, jangan malu-malu meminta bantuan teman atau orang sekitar untuk memanfaatkan (menumpang pakai) tools dan fasilitas akses internet.

Daftar Pustaka


Kurniawan, R. (2009). Berjualan di Facebook untuk Orang Awam. Palembang: Maxikom
Sahin, I. (2006). Detailed Review Of Rogers’ Diffusion Of Innovations Theory And Educational Technology-Related Studies Based On Rogers’ Theory. The Turkish Online Journal of Educational Technology – TOJET April 2006 ISSN: 1303-6521 volume 5 Issue 2 Article 3
Wardhani, D. P. Dkk. (2010). Metode Penulisan Survey. Diakses pada tgl 05 maret 2012 dari elisa1.ugm. ac.id/files/sylvi_dewajani/.../MPS%20KELOMPOK.docx
_______ Pengertian Persepsi. Diakses pada tgl 5 Maret 2012 dari www.infoskripsi.com/ Article/ Pengertian-Persepsi.html
Affandi, A. (2011). Metode Penulisan, Jenis Penulisan, dan Data Penulisan. diakses pada 10 Maret 2012 dari www.merahhitam.com/ metode-penulisan-jenis-dan-data.html
0 komentar

It's Hard to Find Educational Technology Innovation Products at Classrooms

Banyak inovasi yang yang dihasilkan TP tetapi kebanyakan tidak diterapkan dalam pembelajaran dan hanya mengendap di tumpukan skripsi dan kertas lainnya. Jika dikaji lebih lanjut secara mendalam, ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena tersebut. Tetapi saya akan menguraikan beberapa faktor yang menurut saya cukup berpengaruh.


Source: openeducation.net

1. There’s something wrong with The Innovation-Decision Process
Most of decision process stopped at implementation stage. Sebagai contoh adalah penerapan pendekatan PAIKEM untuk SD. PAIKEM cukup populer di kalangan pendidik, terutama karena pemerintah sendiri menggalakkan pelatihan PAIKEM untuk guru-guru. Kita bisa katakan bahwa proses keputusan inovasi pada tahap Pengetahuan, Persuasi, Keputusan, dan Implementasi berjalan dengan baik. Most of teachers acknowledge about PAIKEM, know how to apply and ever make it in their classroom. They even make an action recearch (PTK) based on those approach. But somehow with the time goes by, instructional process go back to the ‘traditional’ process that used to be. Saya kira agen perubahan tidak terlalu memperhatikan tahap Konfirmasi atas inovasi tersebut. Mostly, they just focused on implementation stage. Penerapan PAIKEM saja tidak cukup untuk meyakinkan bahwa guru akan tetap menerapkannya di kelas. Pada tahap terakhir itu secara natural guru berpikir ulang dan membutuhkan dukungan (juga penguatan) apakah ia telah melakukan keputusan tepat dengan menerapkan PAIKEM ataukah ia berhenti saja. Di sinilah seharusnya sang agen perubahan melakukan intervensinya terhadap keputusan final adopter.
2. It depend on the Innovation Decision Type
Inovasi dapat diterima atau ditolak oleh seseorang (individu) sebagai anggota sistem sosial, atau oleh keseluruhan anggota sistem sosial, yang menentukan untuk menerima inovasi berdasarkan keputusan bersama atau berdasarkan paksaan (kekuasaan). Kita mengenal 3 tipe keputusan inovasi, yaitu 1) opsional, 2) kolektif, 3) otoritas. Jika dalam kasus penerapan PAIKEM guru yang yang memutuskan apakah ia akan menarapkan atau tidak, tipe keputusannya ini termasuk opsional. Jika yang memutuskan adalah sekelompok guru yang diberi wewenang, misalnya MGMP, atau guru-guru di sekolah saja, maka tipe keputusan inovasi adalah kolektif. Jika keputusan dilakukan (ditentukan) oleh kepala sekolah atau pihak yang mempunyai wewenang lebih tinggi, maka disebut dengan tipe keputusan otoritas.
Jadi, keputusan menerapkan atau tidak PAIKEM ini (yang notabene merupakan inovasi dalam pembelajaran), tergantung dari siapa yang memutuskan. Jika, misalnya MGMP memutuskan (secara kolektif) agar guru IPA menerapkan PAIKEM dikelas, maka guru harus menerapkannya. Biasanya yang paling cepat cepat diterimanya inovasi dengan menggunakan tipe keputusan otoritas, tetapi masih juga tergantung bagaimana pelaksanaannya. Sering terjadi juga kebohongan dalam pelaksanaan keputusan keputusan otoritas. Dapat juga terjadi bahwa keputusan opsional lebih cepat dari keputusan kolektif, jika ternyata untuk membuat kesepakatan dalam musyawarah antara anggota sistem sosial mengalami kesukaran. Tipe keputusan yang digunakan untuk menyebarluaskan suatu inovasi dapat juga berubah dalam waktu tertentu.
3. Lack of infrastuctures and other learning resources
Jika penerapan PAIKEM membutuhkan spesifikasi equipments dan fasilitas, serta sumber belajar tertentu, mau tidak mau guru atau sekolah harus menyediakannnya. Jika penerapan PAIKEM terbentur oleh hal-hal tersebut, bisa jadi guru enggan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan seperti itu. Mereka pasti berfikir, “pendekatan gak usah neko-neko, yang biasa-biasa aja lah. Gitu aja ko repot”. Tapi, sejak diterapkannya kurikulum KTSP, apakah guru harus menyerah saja dengan keadaan? Guru tentu harus kreatif memanfaatkan sumber-sumber yang ada. Jika kejadiannya guru enggan memanfaatkan sumber-sumber yang ada untuk menerapkan PAIKEM, that’s how we can call the teacher aren’t the creative indeed.
Yeah, begitulah kira-kira faktor-faktor mengapa inovasi pendidikan yang dihasilkan TP tidak banyak muncul di kelas. We acknowledge that the one who have the competence or authority at classroom is the teachers/instructors as adopters. They have authority whether or not to make ‘innovation’ happen in the classrooms.
0 komentar