“Celeste, aku pamit dulu. Kue mu enak. Aku harap kamu bisa membuatkan kue yang lain. Baik-baik ya Celeste.” Ia berkata seraya menepuk-nepuk rambutku. Ia mungkin sedang sakit, menganggapku seperti kanak-kanak yang rambutnya bisa dibelai.
“Sudahlah, pergi sana. Aku juga tidak akan merindukanmu, Biyan.” Kataku dingin. Biyan hanya tertawa mendengarnya. Ia pasti menyangka aku hanya bercanda. Sejenak kemudian Biyan sudah tidak ada dalam jangkauan mata.
Biyan aneh, ia laki-laki brengsek dan aku membencinya seperti aku benci makan daging hewan berkaki empat. Seenaknya saja mendekat padaku, bersandar padaku tanpa bertanya apakah aku mau menjadi temannya. Tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak bisa membalik waktu, aku tidak bisa pura-pura tidak mengenalnya lagi, aku telah terikat dengannya.
Dalam mitologi Cina, seseorang berjodoh karena terikat oleh benang merah. Dewa jodoh mungkin telah mengikat kami dengan benang itu, tanpa aku tahu seberapa erat, dan seberapa kuat ikatannya. Andai aku bisa, aku ingin sekali memutus benang itu sekali gigit. Tapi, aku juga menemukan hal lain bahwa benang jodoh itu sewaktu-waktu bisa berubah jika kau sedikit berusaha mengubah takdirmu.
Lain Cina lain Jepang. Kepercayaan kuno menyebutkan bahwa perempuan mengendalikan dunia, kehidupan, melalui serangkaian ikatan benang. Hidup matimu di tangan perempuan kalau begitu. Juga, bahagia dan menderita disebabkan kendali perempuan. Berdasarkan mitos atau bukan, aku sangat percaya bahwa dunia memang benar-benar dikendalikan oleh perempuan.
Tapi, sejauh ini aku tak bisa mengendalikan hubunganku dengan Biyan. Aku sedikit putus asa menghadapi kenyataan. Apakah ini terlalu sepele menurutmu untuk dipikirkan? Bukankah banyak hal lain yang harus diperhatikan? Apakah aku hanya hidup untuk Biyan semata?
# # #
Biyan pulang kemarin, aku sudah tahu. Ia menemuiku kemarin, aku juga bahagia. Tapi, apakah aku lebih bahagia jika aku benar-benar terpisah dengan Biyan? Aku tak bisa menjawabnya.
Bulan Mei ini, Biyan pulang bukan untukku. Bukan untuk orang tuanya, bukan juga untuk dirinya, tapi untuk gadis idola baru yang ia incar. Meski Biyan tidak mengatakannya terus terang, tapi aku bisa membaca lewat perilakunya. Kau pikir, sudah berapa lama aku berteman dengannya?
Ia tidak pernah berkata padaku bahwa ia menyukai gadis itu. Aku harap bukan karena ia takut menyinggungku yang sudah sekian lama menjomblo. Ia hanya pernah mengatakan bahwa ia suka gadis yang begini begitu, sesuai tipenya dan bla bla bla seperti yang semua laki-laki inginkan. Tapi itu bukan diriku, tentu saja, karena aku tidak pernah berharap menjadi gadis tipe seseorang. Aku adalah diriku seutuhnya. Dari obrolan ngalor ngidul aku sudah dapat membayangkan gadis seperti apa dalam benaknya. Dan gadis itu adalah Shira, teman sekelasku.
Shira bukanlah gadis yang buruk, dan ia juga bukanlah gadis yang sempurna. Aku menolak mengatakan bahwa aku cemburu padanya dengan menyebutkan ia gadis yang tidak sempurna. Buka itu maksudku. Shira punya pesonanya sendiri yang bisa menyihir kami, teman-teman perempuannya, juga laki-laki yang lain. Entah mengapa ia terlalu terlihat fotogenik di mata orang-orang. Padahal ia merasa biasa-biasa saja. Kadangkala memang setiap tindak tanduknya selalu diawasi berpasang-pasang mata. Shira adalah apel merah kami!
Sejauh yang aku tahu, Shira bukanlah gadis yang mudah akrab dengan laki-laki, apalagi dengan orang yang tidak ia kenal. Tapi ia punya hormon keingintahuan yang lebih besar terhadap senior laki-laki, atau laki-laki yang lebih tua aku menyebutnya dengan kasar. Ia tak tertarik dengan laki-laki seumuran dengannya, apalagi juniornya. Karena itu, aku bisa menebak bahwa sedikitnya Shira punya ketertrikan akan Biyan. Dan sialnya Biyan juga tertarik padanya.
Pada bulan Mei yang mendung ini aku baru ingat bahwa ada sebuah perhelatan yang lumayan besar akan terjadi. Pesta ulang tahun Shira. Oh, apa aku terlalu berlebihan? Shira tidak datang dari keluarga konglomerat tembakau, tapi ia punya cukup kuasa untuk menggelar sebuah pesta ulang tahun ala prom nite. Sepertinya semua orang yang ia kenal diundang, termasuk aku, mungkin juga Biyan. Sebelumnya aku sudah memprediksi bahwa Biyan jauh-jauh datang dari luar kota hanya untuk menghadiri ulang tahun Shira.
Sebelum Biyan pulang dari rumahku kemarin, ia dengan ringannya menawarkan bantuan untuk mengantarku ke pesta ulang tahun Shira. Sebagai perempuan, aku sudah tahu bahwa ia sesuangguhnya ingin (dan memang ia akan) datang ke sana. Padahal tadinya kukira ia tak tertarik dengan pesta-pesta anak perempuan. Tapi, sudahlah, aku tak masalah, aku tak akan cemburu.
Sebelum aku benar-benar mengeluarkan ekspresi cemburu, Biyan sudah mewanti-wanti lewat sambungan telpon agar aku membantunya menarik perhatian Shira. Ah, akhirnya ia mengatakannya juga. Aku tak bisa apa-apa saat itu meski kurasakan tanganku melemah dan jantungku berdetak cepat sekali. Aku hanya mengatakan aku bisa membantunya sebagai teman baik dan sama sekali tak keberatan.
Aku menutup telpon dari Biyan secepat yang aku bisa, agar aku tidak berteriak histeris, atau diam membisu berkepanjangan sementara ia menghabiskan pulsa untuk menghubungiku. Saat itu jantungku sudah berdetak normal, namun dadaku terasa sesak sekali padahal tidak punya riwayat asma. Aku memandang cermin rias lama sekali, kesal. Aku masih menolak mengatakan bahwa aku cemburu, jealous, atau apalah itu namanya. Aku meyakinkan diriku bahwa aku adalah seorang sahabat perempuan yang baik. Jika Biyan bahagia, maka akupun turut bahagia. Titik.
0
komentar
Tampilkan postingan dengan label Shopaholic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shopaholic. Tampilkan semua postingan
Harga Rasional
Label: Shopaholic
Pernah lihat barang yang harganya mahal banget? (Sering!) Kalo ngomongin harga barang, rasanya relatif banget. bagi yang dokunya banyak mungkin nggak masalah. Yaa, tinggal gesek aja, tutup point. Tapi kadang2 meski duit yang ada di saku udah pas-pasan kita malah nekat beli tu barang karena lagi ada... Diskon!
Harga pasti berhubungan sama kualitas barang. Katanya sih, harga barang sesuai dengan kualitasnya. Sepanjang karir gw malang melintang di dunia perbelanjaan seringkali terjadi harga barang nggak sesuai ma kualitasnya. Ada stuff yang lumayan mahal tapi kualitasnya biasa2 aja alias pasaran, meski itu barang bermerek (setiap barang kan ada mereknya... hehe). Kalo udah gitu ngeliriknya aja gw udah males. Well, kalo dewi fortuna lagi menghampiri kita bakal dapat stuff yang lumayan bagus n berkualitas dengan harga miring. Tapi prosentase keberuntungan itu beda-beda tiap orang.
Soal harga yang kadang relatif gw gak menafikan kalo barang yang bermerek, apalagi kelas dunia emang harganya juga beda. Soal kualitas juga jangan dipertanyakan, apalagi soal ekslusifitas.
Yang bakal gw bahas di sini adalah stuff yang beredar masal (kuantitasnya nggak terhitung). Meski itu barang lumayan bermerek, tetep harus teliti. Soal baju misalnya, meski itu barang diskon, disainnya bagus, tapi coba deh cek kandungan bahannya. Bisa aja tu baju misalnya nggak 100% katun, tp cuma 60% katun. Dalam kasus seperti ini harga sesuai kualitas.
Kalo ngebahas tentang kualitas or material barang, mending sering2 baca dan nyari2 info. Bisa tanya teman, sodara, mami, papa, tetangga, atau boleh juga ma mbah google. Biar kita nggak dibutain sama bujuk rayu iklan dan pramuniaga saat belanja.
Seringnya sih kalo ada barang new arrival harganya suka mahal. model baru gitu loch. nggak jarang stuff yang kualitasnya pasaran jadi ikut mahal gara2 label new arrival itu. Kalo caranya gt, gw males beli. mending nungguin sampe diskon or nyari barang yang lain. Buat gw, uang yang gw keluarin harus sesuai dengan apa yang pengen kita dapet. Yah, jangan beli kucing dalam koper gitu dech. 2 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 23.28
Harga pasti berhubungan sama kualitas barang. Katanya sih, harga barang sesuai dengan kualitasnya. Sepanjang karir gw malang melintang di dunia perbelanjaan seringkali terjadi harga barang nggak sesuai ma kualitasnya. Ada stuff yang lumayan mahal tapi kualitasnya biasa2 aja alias pasaran, meski itu barang bermerek (setiap barang kan ada mereknya... hehe). Kalo udah gitu ngeliriknya aja gw udah males. Well, kalo dewi fortuna lagi menghampiri kita bakal dapat stuff yang lumayan bagus n berkualitas dengan harga miring. Tapi prosentase keberuntungan itu beda-beda tiap orang.
Soal harga yang kadang relatif gw gak menafikan kalo barang yang bermerek, apalagi kelas dunia emang harganya juga beda. Soal kualitas juga jangan dipertanyakan, apalagi soal ekslusifitas.
Yang bakal gw bahas di sini adalah stuff yang beredar masal (kuantitasnya nggak terhitung). Meski itu barang lumayan bermerek, tetep harus teliti. Soal baju misalnya, meski itu barang diskon, disainnya bagus, tapi coba deh cek kandungan bahannya. Bisa aja tu baju misalnya nggak 100% katun, tp cuma 60% katun. Dalam kasus seperti ini harga sesuai kualitas.
Kalo ngebahas tentang kualitas or material barang, mending sering2 baca dan nyari2 info. Bisa tanya teman, sodara, mami, papa, tetangga, atau boleh juga ma mbah google. Biar kita nggak dibutain sama bujuk rayu iklan dan pramuniaga saat belanja.
Seringnya sih kalo ada barang new arrival harganya suka mahal. model baru gitu loch. nggak jarang stuff yang kualitasnya pasaran jadi ikut mahal gara2 label new arrival itu. Kalo caranya gt, gw males beli. mending nungguin sampe diskon or nyari barang yang lain. Buat gw, uang yang gw keluarin harus sesuai dengan apa yang pengen kita dapet. Yah, jangan beli kucing dalam koper gitu dech. 2 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 23.28
Crazy in Shopping
Label: Shopaholic
Shopping. Hal yang sangat indah dan menyenangkan. Bahkan saaaangat indah. Makanya gue interet banget sama cerita si Rebeca Bloomwood dalam confessions of a shopaholic. Gw nih kalo lewat ke suatu tempat, kayak mall or other market, bawaannya pengen beli mulu, apalagi kalo lihat barang yang lutcu dan cute. :)
Waktu kecil gw jg paling nafsu beli stuff yang lucu-lucu, WHY? Karena ortu gw selalu ngasih barang yang harganya standar dan modelnya awet sepanjang masa. Misalnya nih, Sepatu model sekolah warna hitam bertali yang bahanya dari kain (kalo solnya sih dari karet) yang gw inget merknya warrior. Waktu itu memang anak sekolah di skul gw wajib pake sepatu yang modelnya kayak gitu. Tapi, dari SD s/d SMP gw dibeliin itu mulu. Dan setiap beli sepatu ukurannya di tambah satu nomor dari ukuran kaki gw yang sebenanrnya. Ortu gw bilang "Biar bisa dipake lagi kalo kaki kamu makin besar, jadi gak usah beli sepatu lagi kalo belum rusak..." Yiaks. Meski begitu kaki gw bukan makhluk yang ramah buat segala jenis alas kaki. Satu bulan juga udah 'ada yang salah' dengan sepatu gw, entah di bagan mana yang rusak.
Nah, waktu SMA gw juga terpaksa pake sepatu item lagi gara-gara peraturan sekolah. Berhubung sebagian besar waktu gw dihabiskan di sekolah, maka kebutuhan untuk beli alas kaki selain sepatu sekolah menjadi nggak wajib buat gw meski itu menyakitkan.
Makanya nih pas gw udah kuliah sekarang, gw freak banget sama yang namanya sepatu. Mulailah gw mengoleksi sepatu yang lucu-lucu. But, Flat shoes forever!
Selain sepatu, hal yang paling freak lagi bwt gw adalah baju (semua cewek juga gitu kan?). Waktu kecil gw sering dibeliin nyokap dress kembaran sama adek cewek gw. Padahal kita bukan sodara kembar! Lagian juga bokap gw cerewet banget sama apa yang diake sama anaknya. Anyway, gw bukan tipe cewek yang gila-gilaan dalam hal berpakaian. Gw masih punya rasa kesusilaan! Makanya gw sebel banget bokap gw tuh sok ngatur2 baju apa yang harus gw beli.
Dan, setelah gue gede dikit (kuliah maksudnya) gak ada alasan lagi buat gak ngeeksplor rasa fashion gw. hahaha
Ujung-ujunga kalo gw lihat rok yang lucu dan kerudung yang imut-imut gak tahan pengen gw beli. seenggaknya kalo belum punya duit gw bakalan ngincer terus tu barang sampe dapat. kao nggak bisa kebawa mimpi. 2 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 21.52
Waktu kecil gw jg paling nafsu beli stuff yang lucu-lucu, WHY? Karena ortu gw selalu ngasih barang yang harganya standar dan modelnya awet sepanjang masa. Misalnya nih, Sepatu model sekolah warna hitam bertali yang bahanya dari kain (kalo solnya sih dari karet) yang gw inget merknya warrior. Waktu itu memang anak sekolah di skul gw wajib pake sepatu yang modelnya kayak gitu. Tapi, dari SD s/d SMP gw dibeliin itu mulu. Dan setiap beli sepatu ukurannya di tambah satu nomor dari ukuran kaki gw yang sebenanrnya. Ortu gw bilang "Biar bisa dipake lagi kalo kaki kamu makin besar, jadi gak usah beli sepatu lagi kalo belum rusak..." Yiaks. Meski begitu kaki gw bukan makhluk yang ramah buat segala jenis alas kaki. Satu bulan juga udah 'ada yang salah' dengan sepatu gw, entah di bagan mana yang rusak.
Nah, waktu SMA gw juga terpaksa pake sepatu item lagi gara-gara peraturan sekolah. Berhubung sebagian besar waktu gw dihabiskan di sekolah, maka kebutuhan untuk beli alas kaki selain sepatu sekolah menjadi nggak wajib buat gw meski itu menyakitkan.
Makanya nih pas gw udah kuliah sekarang, gw freak banget sama yang namanya sepatu. Mulailah gw mengoleksi sepatu yang lucu-lucu. But, Flat shoes forever!
Selain sepatu, hal yang paling freak lagi bwt gw adalah baju (semua cewek juga gitu kan?). Waktu kecil gw sering dibeliin nyokap dress kembaran sama adek cewek gw. Padahal kita bukan sodara kembar! Lagian juga bokap gw cerewet banget sama apa yang diake sama anaknya. Anyway, gw bukan tipe cewek yang gila-gilaan dalam hal berpakaian. Gw masih punya rasa kesusilaan! Makanya gw sebel banget bokap gw tuh sok ngatur2 baju apa yang harus gw beli.
Dan, setelah gue gede dikit (kuliah maksudnya) gak ada alasan lagi buat gak ngeeksplor rasa fashion gw. hahaha
Ujung-ujunga kalo gw lihat rok yang lucu dan kerudung yang imut-imut gak tahan pengen gw beli. seenggaknya kalo belum punya duit gw bakalan ngincer terus tu barang sampe dapat. kao nggak bisa kebawa mimpi. 2 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 21.52
Langganan:
Postingan (Atom)
