Tampilkan postingan dengan label Cerita aja....... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita aja....... Tampilkan semua postingan
Kenek Metromini
Label: Cerita aja......kemarin baru naik metromini jurusan kampung melayu-rawamangun (apa pulogadung y?). supirnya masih muda, kira-kira di kisaran umur 20an. tipe-tipe supir yang ugal-ugalan kalo di jalan. dan memang benar. jalur transjakarta aja diterobos. tapi metro yang saya tumpangi tidak sendirian menembus jalan busway :)
saya tidak akan membahas supir metromini itu lebh lanjut, karena yang menarik perhatian saya adalah keneknya. keneknya bukan artis, apalagi evan sanders, tidak pula ganteng. keneknya itu perempuan. penampilannya biasa saja seperti wanita biasa. pake kaus ketat, rambutnya diikat, tidak namak pula sifat tomboy. figurnya lumayan menarik lah. kulitnya hitam manis (sawo kematengan kali y?). berani bertaruh kalo kulitnya menghitam itu pasti gara-gara terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama. karena jadi kenek yang tugasnya dan medan kerjanya seperti itu, ya jadinya agak dekil. coba kalo dia jadi kenek busway, pasti dari pagi sampai malam tetep cantik dan rapi.
anyway, bukan kali ini saja saya menemukan perempuan yang bekerja sebagai kenek (atau nyambi jadi kenek?). sebelumnya kenek perempuan yang saya temukan adalah ibu-ibu. yeah, dari body dan gesturenya ketahuan lah kalo dia sudah berkeluarga. nah, kenek perempuan yang saya temukan kemarin itu disinyalir masih singel. abis, badannya masih bagus sih. tapi, saya nggak peduli lho dia single atau tidak. bukan selera saya sih.
yang ingin saya katakan adalah, salut buat perempuan itu mau capek-capek dan berdekil ria menjadi kenek metromini yang you know lah keadannya. jangan bayangkan berapa penghasilannya, tapi bayangkanlah keringat cucurannya selama beberapa rit. menurut saya, jadi kenek perempuan tetp lebih terhormat dari pada perempuan peminta-minta dan pengamen yang seringnya membawa bayi atau balita yang kita tidak tahu apakah itu balita sewaan atau asli anaknya. kesannya mereka menjual kesengsaraan balita yang dibawanya untuk menarik simpati orang-orang. padahal kan kasian, bayi-bayi atau balita yang disewa itu. fyi, untuk mengetahui apakah balita yang dibawa perempuan pengamen atau peminta-minta itu anaknya atau bukan, perhatikan sikap dan gesture si perempuan pada anaknya. insting seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya terpapar matahari dan kepanasan, selalu memastikan kalo anak dalam gendongannya baik-baik saja, bisa menenangkan dengan lembut si balita kalo rewel, memberikan minuman yang layak bagi si balita (saya sering melihat para perempuan itu juga membawa botol susu yang berisi susu atau malah cuma air teh belaka). pokoknya bandingin aja sama ibu-ibu yang biasa ngegendong anaknya, pasti ada perbedaannya.
kadang saya juga bertanya, kok dia mau sih jadi kenek? tahu sendiri jakarta panas dan metromini tidak berAC. ada beberapa kemungkinan. 1. terdesak ekonomi, jadilah ia kenek metromini secara permanen. 2. cuma iseng nyambi jadi kenek sesekali buat cari tambahan uang atau pengen jalan-jalan aj :). 3. si supir metromini adalah pacarnya (atau mungkin suaminya?), jadi dia nggak rela cowoknya lirik-lirik penumpang cewek dan jadi keneknya buat ngawasin cowoknya yang supir metromini itu. makanya si kenek akan jealous pada penumpang cakep dan mungkin malah menarik sewa lebih mahal, hihi.
0 komentar
Cerita Tentang Nenek
Label: Cerita aja......
Sebelum aku pikun dan melupakannya, dan sebelum ia meninggalkan dunia fana, ada baiknya aku bercerita tentang nenekku. Bagaimanapun, dia orang tua yang melahirkan orang tuaku.
0
komentar
Diposting oleh
ZU_Cute
di
09.25
Perawakannya kecil saja seperti perempuan tropis pada umumnya. ketika badannya mulai tinggak tulang dibalut kulit keriput, perawakannya tetap tidak berubah banyak, kecuali badannya bungkuk karena di masa muda sering membawa beban berat. figur wajahnya sekarang tidak berbeda dengan figur yang ada di foto yang diambil sekitar tahun 70 atau 80an. cuma keriputnya yang sangat bertambah banyak.
Ketika kecil, nenek bagiku adalah orang yang sangat menyebalkan. selalu benci pada cucunya ini, apalagi bila melihatku membawa teman sebaya main main ke rumah. tambahan lagi, kadang ia juga marah jika aku pergi keluar rumah untuk main bersama teman. makanya, aku lebih sering main sendiri di dalam rumah dan membaca buku. hal ini mungkin menjadikanku anak rumahan yang introvert dan kurang bersosialisasi. pendek kata, tiada hari tanpa omelan dari nenek yang cerewet. ssaudara yang sebaya dengankupun , teman mainku juga, berujar bahwa nenek adalah orang paling cerewet dan rempong sedunia.
Karena aku perempuan, sudah sewajarnya aku dituntut untuk bisa mengerjakan tugas dapur atau rumah tangga. ya, misalnya mencuci piring kotor, dan memasak. waktu SD dan SMP, teman-teman sebayaku sudah mahir memasak nasi dan mengerjakan tugas rumah tangga lain, sedangkan aku belum bisa apa-apa. masak mie instanpun seringnya cuma diseduh dengan air panas! sebalnya, nenek dan ibuku sering membandingkanku dengan anak tetangga. aku cuma bisa mengangguk-angguk saat mereka mulai bicara betapa rajinnya anak tetangga membantu ibunya di dapur. padahal, kalau dipikir, nenekkulah yang punya andil besar menjadikanku anak perempuan tanpa skill masak. bagaimana tidak, kalau nenek dan ibuku sedang memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, aku kadang dianggapnya sebagai pengganggu kegiatan mereka. bagaimana bisa masak kalau tidak pernah diajari dan dilarang masuk dapur? konyol deh.
Hal menyebalkan lain, nenek sering pilih kasih pada cucu-cucunya. tentang ini, aku tidak akan menjelaskan lebih detil. meski aku tidak mau mengakui kelakuan nenek yang tidak terpuji itu, hati kecilku menjerit bahwa dia memang melakukannya! itu memang membuatku iri dan sedikit kesal. tapi aku tak pernah menunjukannya, aku selalu menahan diri, kau tahu? dengan berlalunya waktu, dia seharusnya tahu anak cucu mana yang benar tulus merawat dan menyayanginya tanpa pamrih.
Tentang mengapa ia sering marah-marah tidak jelas di rumah. aku hanya bisa berspekulasi bahwa ia memendam suatu kekecewaan dan kemarahan yang ia tidak tahu harus melampiaskannya kemana. padahal, ia harusnya mengutuk perbuatannya sendiri yang malah berujung pada penyesalannya. jika ia tak punya alasan untuk memarahiku, atau saudaraku, ia akan mencari-cari kesalahanku, ibuku, dan ayahku. ia juga sering mengumpat atau memaki keberadaan ayahku. what the hell, padahal ayahku (menantunya) ada karena andil nenekku juga. how pathetic.
Nenekku itu, penakut. ia tidak berani tidur sendiri. aku sering menemaninya tidur di kamarnya hanya dengan harapan ia akan memberiku uang jajan tambahan :). tapi, tidak selalu dikasih sih, kalau waktu-waktu mau tidur, kesalku hilang padanya, tapi kalau hari berganti, berganti pula mood nenek.
Kini, nenek sudah menjanda selama sepuluh tahun lebih. tidak akan ada yang berpikir dia akan menikah lagi. never never.
Ia sekarang cuma bisa berbaring, duduk leyeh-leyeh di ranjang. gara-gara insiden di seruduk salah satu buyutnya, ia mengalmi pergeseran tulang lutut. kesempatan untuk bisa normal dari kelumpuhan tidak akan beranjak dari 0%. tulangnya memang sudah rapuh, sulit untuk sel-sel tulangnya beregenerasi. jadinya, sekarang ia diurus oleh anaknya, seorang janda juga, kakak ibuku. tapi, kami sekeluarga besar bahu membahu merawatnya. termasuk aku.
uwakku itu, janda yang lumayan baik, tapi kalau sudah marah akan meledak-ledak. ini biasanya disebabkan oleh sikap nenekku yang makin kayak anak kecil dan cerewet. jadi ingat, bahwa siklus hidup manusia akan kembali seperti pada waktu bayi/kanak-kanak. kadang aku kasihan melihat nenek dicuekin dan dibentak oleh anak-anaknya minus ibuku. yah mau gimana lagi, kembali pada attitudenya yang kekanakan dan kadang sombong. ditambah lagi anak-anakknya tidak mau mengerti bahwa fisik dan psikis nenek itu sudah berubah seperti fitrah seorang manusia biasa. sepertinya mereka tidak mempelajari psikologi perkembangan. kalau aku sekarang menghadapinya dengan santai saja, kalau ia membuatku emosi, aku biasanya diamkan saja dan tidak memasukkannya ke hati.
Mimpi Bunga 5
Label: cerbung, Cerita aja......, mimpi bunga, mimpiku, novella, romansa, Shopaholic
“Celeste, aku pamit dulu. Kue mu enak. Aku harap kamu bisa membuatkan kue yang lain. Baik-baik ya Celeste.” Ia berkata seraya menepuk-nepuk rambutku. Ia mungkin sedang sakit, menganggapku seperti kanak-kanak yang rambutnya bisa dibelai.
“Sudahlah, pergi sana. Aku juga tidak akan merindukanmu, Biyan.” Kataku dingin. Biyan hanya tertawa mendengarnya. Ia pasti menyangka aku hanya bercanda. Sejenak kemudian Biyan sudah tidak ada dalam jangkauan mata.
Biyan aneh, ia laki-laki brengsek dan aku membencinya seperti aku benci makan daging hewan berkaki empat. Seenaknya saja mendekat padaku, bersandar padaku tanpa bertanya apakah aku mau menjadi temannya. Tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak bisa membalik waktu, aku tidak bisa pura-pura tidak mengenalnya lagi, aku telah terikat dengannya.
Dalam mitologi Cina, seseorang berjodoh karena terikat oleh benang merah. Dewa jodoh mungkin telah mengikat kami dengan benang itu, tanpa aku tahu seberapa erat, dan seberapa kuat ikatannya. Andai aku bisa, aku ingin sekali memutus benang itu sekali gigit. Tapi, aku juga menemukan hal lain bahwa benang jodoh itu sewaktu-waktu bisa berubah jika kau sedikit berusaha mengubah takdirmu.
Lain Cina lain Jepang. Kepercayaan kuno menyebutkan bahwa perempuan mengendalikan dunia, kehidupan, melalui serangkaian ikatan benang. Hidup matimu di tangan perempuan kalau begitu. Juga, bahagia dan menderita disebabkan kendali perempuan. Berdasarkan mitos atau bukan, aku sangat percaya bahwa dunia memang benar-benar dikendalikan oleh perempuan.
Tapi, sejauh ini aku tak bisa mengendalikan hubunganku dengan Biyan. Aku sedikit putus asa menghadapi kenyataan. Apakah ini terlalu sepele menurutmu untuk dipikirkan? Bukankah banyak hal lain yang harus diperhatikan? Apakah aku hanya hidup untuk Biyan semata?
# # #
Biyan pulang kemarin, aku sudah tahu. Ia menemuiku kemarin, aku juga bahagia. Tapi, apakah aku lebih bahagia jika aku benar-benar terpisah dengan Biyan? Aku tak bisa menjawabnya.
Bulan Mei ini, Biyan pulang bukan untukku. Bukan untuk orang tuanya, bukan juga untuk dirinya, tapi untuk gadis idola baru yang ia incar. Meski Biyan tidak mengatakannya terus terang, tapi aku bisa membaca lewat perilakunya. Kau pikir, sudah berapa lama aku berteman dengannya?
Ia tidak pernah berkata padaku bahwa ia menyukai gadis itu. Aku harap bukan karena ia takut menyinggungku yang sudah sekian lama menjomblo. Ia hanya pernah mengatakan bahwa ia suka gadis yang begini begitu, sesuai tipenya dan bla bla bla seperti yang semua laki-laki inginkan. Tapi itu bukan diriku, tentu saja, karena aku tidak pernah berharap menjadi gadis tipe seseorang. Aku adalah diriku seutuhnya. Dari obrolan ngalor ngidul aku sudah dapat membayangkan gadis seperti apa dalam benaknya. Dan gadis itu adalah Shira, teman sekelasku.
Shira bukanlah gadis yang buruk, dan ia juga bukanlah gadis yang sempurna. Aku menolak mengatakan bahwa aku cemburu padanya dengan menyebutkan ia gadis yang tidak sempurna. Buka itu maksudku. Shira punya pesonanya sendiri yang bisa menyihir kami, teman-teman perempuannya, juga laki-laki yang lain. Entah mengapa ia terlalu terlihat fotogenik di mata orang-orang. Padahal ia merasa biasa-biasa saja. Kadangkala memang setiap tindak tanduknya selalu diawasi berpasang-pasang mata. Shira adalah apel merah kami!
Sejauh yang aku tahu, Shira bukanlah gadis yang mudah akrab dengan laki-laki, apalagi dengan orang yang tidak ia kenal. Tapi ia punya hormon keingintahuan yang lebih besar terhadap senior laki-laki, atau laki-laki yang lebih tua aku menyebutnya dengan kasar. Ia tak tertarik dengan laki-laki seumuran dengannya, apalagi juniornya. Karena itu, aku bisa menebak bahwa sedikitnya Shira punya ketertrikan akan Biyan. Dan sialnya Biyan juga tertarik padanya.
Pada bulan Mei yang mendung ini aku baru ingat bahwa ada sebuah perhelatan yang lumayan besar akan terjadi. Pesta ulang tahun Shira. Oh, apa aku terlalu berlebihan? Shira tidak datang dari keluarga konglomerat tembakau, tapi ia punya cukup kuasa untuk menggelar sebuah pesta ulang tahun ala prom nite. Sepertinya semua orang yang ia kenal diundang, termasuk aku, mungkin juga Biyan. Sebelumnya aku sudah memprediksi bahwa Biyan jauh-jauh datang dari luar kota hanya untuk menghadiri ulang tahun Shira.
Sebelum Biyan pulang dari rumahku kemarin, ia dengan ringannya menawarkan bantuan untuk mengantarku ke pesta ulang tahun Shira. Sebagai perempuan, aku sudah tahu bahwa ia sesuangguhnya ingin (dan memang ia akan) datang ke sana. Padahal tadinya kukira ia tak tertarik dengan pesta-pesta anak perempuan. Tapi, sudahlah, aku tak masalah, aku tak akan cemburu.
Sebelum aku benar-benar mengeluarkan ekspresi cemburu, Biyan sudah mewanti-wanti lewat sambungan telpon agar aku membantunya menarik perhatian Shira. Ah, akhirnya ia mengatakannya juga. Aku tak bisa apa-apa saat itu meski kurasakan tanganku melemah dan jantungku berdetak cepat sekali. Aku hanya mengatakan aku bisa membantunya sebagai teman baik dan sama sekali tak keberatan.
Aku menutup telpon dari Biyan secepat yang aku bisa, agar aku tidak berteriak histeris, atau diam membisu berkepanjangan sementara ia menghabiskan pulsa untuk menghubungiku. Saat itu jantungku sudah berdetak normal, namun dadaku terasa sesak sekali padahal tidak punya riwayat asma. Aku memandang cermin rias lama sekali, kesal. Aku masih menolak mengatakan bahwa aku cemburu, jealous, atau apalah itu namanya. Aku meyakinkan diriku bahwa aku adalah seorang sahabat perempuan yang baik. Jika Biyan bahagia, maka akupun turut bahagia. Titik. 0 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 23.01
“Sudahlah, pergi sana. Aku juga tidak akan merindukanmu, Biyan.” Kataku dingin. Biyan hanya tertawa mendengarnya. Ia pasti menyangka aku hanya bercanda. Sejenak kemudian Biyan sudah tidak ada dalam jangkauan mata.
Biyan aneh, ia laki-laki brengsek dan aku membencinya seperti aku benci makan daging hewan berkaki empat. Seenaknya saja mendekat padaku, bersandar padaku tanpa bertanya apakah aku mau menjadi temannya. Tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak bisa membalik waktu, aku tidak bisa pura-pura tidak mengenalnya lagi, aku telah terikat dengannya.
Dalam mitologi Cina, seseorang berjodoh karena terikat oleh benang merah. Dewa jodoh mungkin telah mengikat kami dengan benang itu, tanpa aku tahu seberapa erat, dan seberapa kuat ikatannya. Andai aku bisa, aku ingin sekali memutus benang itu sekali gigit. Tapi, aku juga menemukan hal lain bahwa benang jodoh itu sewaktu-waktu bisa berubah jika kau sedikit berusaha mengubah takdirmu.
Lain Cina lain Jepang. Kepercayaan kuno menyebutkan bahwa perempuan mengendalikan dunia, kehidupan, melalui serangkaian ikatan benang. Hidup matimu di tangan perempuan kalau begitu. Juga, bahagia dan menderita disebabkan kendali perempuan. Berdasarkan mitos atau bukan, aku sangat percaya bahwa dunia memang benar-benar dikendalikan oleh perempuan.
Tapi, sejauh ini aku tak bisa mengendalikan hubunganku dengan Biyan. Aku sedikit putus asa menghadapi kenyataan. Apakah ini terlalu sepele menurutmu untuk dipikirkan? Bukankah banyak hal lain yang harus diperhatikan? Apakah aku hanya hidup untuk Biyan semata?
# # #
Biyan pulang kemarin, aku sudah tahu. Ia menemuiku kemarin, aku juga bahagia. Tapi, apakah aku lebih bahagia jika aku benar-benar terpisah dengan Biyan? Aku tak bisa menjawabnya.
Bulan Mei ini, Biyan pulang bukan untukku. Bukan untuk orang tuanya, bukan juga untuk dirinya, tapi untuk gadis idola baru yang ia incar. Meski Biyan tidak mengatakannya terus terang, tapi aku bisa membaca lewat perilakunya. Kau pikir, sudah berapa lama aku berteman dengannya?
Ia tidak pernah berkata padaku bahwa ia menyukai gadis itu. Aku harap bukan karena ia takut menyinggungku yang sudah sekian lama menjomblo. Ia hanya pernah mengatakan bahwa ia suka gadis yang begini begitu, sesuai tipenya dan bla bla bla seperti yang semua laki-laki inginkan. Tapi itu bukan diriku, tentu saja, karena aku tidak pernah berharap menjadi gadis tipe seseorang. Aku adalah diriku seutuhnya. Dari obrolan ngalor ngidul aku sudah dapat membayangkan gadis seperti apa dalam benaknya. Dan gadis itu adalah Shira, teman sekelasku.
Shira bukanlah gadis yang buruk, dan ia juga bukanlah gadis yang sempurna. Aku menolak mengatakan bahwa aku cemburu padanya dengan menyebutkan ia gadis yang tidak sempurna. Buka itu maksudku. Shira punya pesonanya sendiri yang bisa menyihir kami, teman-teman perempuannya, juga laki-laki yang lain. Entah mengapa ia terlalu terlihat fotogenik di mata orang-orang. Padahal ia merasa biasa-biasa saja. Kadangkala memang setiap tindak tanduknya selalu diawasi berpasang-pasang mata. Shira adalah apel merah kami!
Sejauh yang aku tahu, Shira bukanlah gadis yang mudah akrab dengan laki-laki, apalagi dengan orang yang tidak ia kenal. Tapi ia punya hormon keingintahuan yang lebih besar terhadap senior laki-laki, atau laki-laki yang lebih tua aku menyebutnya dengan kasar. Ia tak tertarik dengan laki-laki seumuran dengannya, apalagi juniornya. Karena itu, aku bisa menebak bahwa sedikitnya Shira punya ketertrikan akan Biyan. Dan sialnya Biyan juga tertarik padanya.
Pada bulan Mei yang mendung ini aku baru ingat bahwa ada sebuah perhelatan yang lumayan besar akan terjadi. Pesta ulang tahun Shira. Oh, apa aku terlalu berlebihan? Shira tidak datang dari keluarga konglomerat tembakau, tapi ia punya cukup kuasa untuk menggelar sebuah pesta ulang tahun ala prom nite. Sepertinya semua orang yang ia kenal diundang, termasuk aku, mungkin juga Biyan. Sebelumnya aku sudah memprediksi bahwa Biyan jauh-jauh datang dari luar kota hanya untuk menghadiri ulang tahun Shira.
Sebelum Biyan pulang dari rumahku kemarin, ia dengan ringannya menawarkan bantuan untuk mengantarku ke pesta ulang tahun Shira. Sebagai perempuan, aku sudah tahu bahwa ia sesuangguhnya ingin (dan memang ia akan) datang ke sana. Padahal tadinya kukira ia tak tertarik dengan pesta-pesta anak perempuan. Tapi, sudahlah, aku tak masalah, aku tak akan cemburu.
Sebelum aku benar-benar mengeluarkan ekspresi cemburu, Biyan sudah mewanti-wanti lewat sambungan telpon agar aku membantunya menarik perhatian Shira. Ah, akhirnya ia mengatakannya juga. Aku tak bisa apa-apa saat itu meski kurasakan tanganku melemah dan jantungku berdetak cepat sekali. Aku hanya mengatakan aku bisa membantunya sebagai teman baik dan sama sekali tak keberatan.
Aku menutup telpon dari Biyan secepat yang aku bisa, agar aku tidak berteriak histeris, atau diam membisu berkepanjangan sementara ia menghabiskan pulsa untuk menghubungiku. Saat itu jantungku sudah berdetak normal, namun dadaku terasa sesak sekali padahal tidak punya riwayat asma. Aku memandang cermin rias lama sekali, kesal. Aku masih menolak mengatakan bahwa aku cemburu, jealous, atau apalah itu namanya. Aku meyakinkan diriku bahwa aku adalah seorang sahabat perempuan yang baik. Jika Biyan bahagia, maka akupun turut bahagia. Titik. 0 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 23.01
Kerlip Bunga Plastik
Label: Cerita aja......
Anye, (nama aslinya Dewi Anyelir, lho) cuma bisa duduk di trotoar melihat metromini yang ditunggu-tunggunya sudah cabut. Sudah terlambat ia berteriak. Telinga kondektur metromini nomor 49 itu sudah penuh dengan suara bising mesin omprengan metromini. Anye tidak dapat menerima kenyataan itu. Yah, bagaimanapun juga ia telah menunggu kendaraan itu hampir selama satu jam. Dan ia bisa tertingga begitu saja hanya persoalan sepele! Lice si banci kaleng itu menelponnya berulang kali hingga ia tidak sempat memperhatika lalu lalang kendaraan.
"Pleas, siapa sih kamu Lice?" Anye menggerutu dalam hatinya. Hatinya sedikit terobati manakala lima menit kemudian sebuah metromini berhenti di depannya.
Selama dalam metromini ia terus berfikir. Merenung dan menerawang. Kenapa aku bisa tertarik dalam lingkaran masalah ini? Kenapa aku mau berurusan dengan orang sepertinya?
Aku pusiiing.....!
Anye membantingkan dirinya ke kasur kapuk. Sedikit menekan punggung, sudah lama tidak dijemur di bawah matahari. Anye sedikitpun tidak memperdulikan sedikit apak yang menguar dari kasurnya. Anya kemudian membuka-buka buku agendanya. Mencari-cari catatan yang tidak penting tapi sebenarnya penting. Jadi apa?
Di halaman dua puluh tujuh ia menemukan seonggok kalimat dengan tinta hitam.
Yes! Akhirnya hari ini gue bisa buka klub konsultasi kecil-kecilan di kampus. Tepatnya konsultasi gratis dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa. Klop lah dengan cita-cita gw yang pengen jadi psikolog. (kalo nggak gitu, ngapain juga gw capek-capek ngambil jurusan psikologi, cuy?) Sejauh ini anggota klub cuma bertiga, gue, Anes, dan Mini. Gue ketuanya, Mini sekretaris merangkap humas, Anes bendahara. Kita bertiga melayani konseling (gantian, tapi). Kita udah pasang publikasi berupa mini pamflet di area sekitar kampus. Lumayan mengejutkan. Tepat satu jam setelah kita pasang pengumuman, eh uda ada klien yang sms ke hp gw (gw emang dijadiin cp). Dari sms yang gw terima dia bilang anak jurusan teknik sipil dan berjenis kelamin cowok. Gw waktu itu mikir kayaknya nih cowok mau konsultasi gimana caranya bikin hati cewek-cewek meleleh berdasarkan background pendidikan dia, hehe.
Anye menghembuskan nafas panjang. fuh fuh fuh..... lanjut ke halaman berikutnya.
Akhirnya gw bikin konseling pertama gw. Mini dan Anes masih nunggu klien yang lain. Well, klien pertama gw ini (sumpah, gw gak nyangka banget!!) dia cowok yang cute. Perawakannya mirip Kim Bum, (hehehe) dan dia super ramah. Meski Anes bakal bilang kalo dia kayak banci, tapi yah, gw rasa dia itu cuma kemayu. Kemayu bukan berarti banci kan?
Awalnya dia malu-malu ngenalin diri, tapi akhirnya dia ngerasa rileks juga berhadapan sama gue. Gue kan psikolog paling cakep dan cute (gue tertawa dalam hati). Beberapa saat kemudian dia mulai curhat.
"Begini mbak, saya, Ramon, Mbak udah tahu kan nama saya?" Gue ngangguk sengangguk-ngangguknya.
"Jangan manggil mbak, dong. Saya kan seangkatan sama kamu, panggil nama aja. Anye. Tapi, terserah Ramon aja deh."
"Iya maaf, mbak. Eh, Anye." Dia tersenyum. Sumpah, kalo dia bukan klien gue, udah gue cubit-cubitin pipinya saking gemes.
"Ya, gak apa-apa. Ramon, kamu mau cerita apa? Nggak usah grogi, pake bahasa kamu aja."
"Aku udah lama suka sama seseorang." Ramon diam sebentar. "Dari TK sampe kuliahpun aku cuma mikirin dia. Dia itu cakep, berprestasi. Dia idola aku." Ramon menunduk.
"Terus? apa dia tahu perasaan kamu?"
"Dia nggak pernah tahu, dan aku nggak pernah cerita sama dia. Aku takut dia bakalan jijik sama aku." Ramon masih nunduk. Denger-denger kata 'jijik' pikiranku langsung menuju kata ******. Masak seh dia itu...?
"Lagian, dari TK sampe kuliah banyak anak yang suka sama dia. Dia nggak pernah sendiri. Mantan pacarnya udah nggak keitung. Walaupun dia bukan plyboy, tapi masalah cewek ia nggak bakalan kalah dari casanova. Dia pernah bilang kalo belum ada yang cocok aja. Tapi, tapi, aku sama sekali nggak punya peluang untuk lebih dekat lagi sama dia. Aku masih punya harga diri sebagai cowok. Anye ngerti maksud aku kan?" Lagi-lagi gw cuma ngangguk.
Dan, setelah itu percakapan bla-bla-bla-bala berlangsung selama satu jam lamanya. gw nggak mungkin sanggup nulisin semua curhatannya di notes ini. Intinya dia tuh lagi fall in love sampe karatan. Basi sih, tapi apa boleh buat ioni klien pertama gue sih.
Sampai disana Anye berhenti. Ia menarik nafas dalam-dalam lagi. Memandnagi langit-langit kamar kosannya yang suram. 0 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 07.32
"Pleas, siapa sih kamu Lice?" Anye menggerutu dalam hatinya. Hatinya sedikit terobati manakala lima menit kemudian sebuah metromini berhenti di depannya.
Selama dalam metromini ia terus berfikir. Merenung dan menerawang. Kenapa aku bisa tertarik dalam lingkaran masalah ini? Kenapa aku mau berurusan dengan orang sepertinya?
Aku pusiiing.....!
Anye membantingkan dirinya ke kasur kapuk. Sedikit menekan punggung, sudah lama tidak dijemur di bawah matahari. Anye sedikitpun tidak memperdulikan sedikit apak yang menguar dari kasurnya. Anya kemudian membuka-buka buku agendanya. Mencari-cari catatan yang tidak penting tapi sebenarnya penting. Jadi apa?
Di halaman dua puluh tujuh ia menemukan seonggok kalimat dengan tinta hitam.
Yes! Akhirnya hari ini gue bisa buka klub konsultasi kecil-kecilan di kampus. Tepatnya konsultasi gratis dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa. Klop lah dengan cita-cita gw yang pengen jadi psikolog. (kalo nggak gitu, ngapain juga gw capek-capek ngambil jurusan psikologi, cuy?) Sejauh ini anggota klub cuma bertiga, gue, Anes, dan Mini. Gue ketuanya, Mini sekretaris merangkap humas, Anes bendahara. Kita bertiga melayani konseling (gantian, tapi). Kita udah pasang publikasi berupa mini pamflet di area sekitar kampus. Lumayan mengejutkan. Tepat satu jam setelah kita pasang pengumuman, eh uda ada klien yang sms ke hp gw (gw emang dijadiin cp). Dari sms yang gw terima dia bilang anak jurusan teknik sipil dan berjenis kelamin cowok. Gw waktu itu mikir kayaknya nih cowok mau konsultasi gimana caranya bikin hati cewek-cewek meleleh berdasarkan background pendidikan dia, hehe.
Anye menghembuskan nafas panjang. fuh fuh fuh..... lanjut ke halaman berikutnya.
Akhirnya gw bikin konseling pertama gw. Mini dan Anes masih nunggu klien yang lain. Well, klien pertama gw ini (sumpah, gw gak nyangka banget!!) dia cowok yang cute. Perawakannya mirip Kim Bum, (hehehe) dan dia super ramah. Meski Anes bakal bilang kalo dia kayak banci, tapi yah, gw rasa dia itu cuma kemayu. Kemayu bukan berarti banci kan?
Awalnya dia malu-malu ngenalin diri, tapi akhirnya dia ngerasa rileks juga berhadapan sama gue. Gue kan psikolog paling cakep dan cute (gue tertawa dalam hati). Beberapa saat kemudian dia mulai curhat.
"Begini mbak, saya, Ramon, Mbak udah tahu kan nama saya?" Gue ngangguk sengangguk-ngangguknya.
"Jangan manggil mbak, dong. Saya kan seangkatan sama kamu, panggil nama aja. Anye. Tapi, terserah Ramon aja deh."
"Iya maaf, mbak. Eh, Anye." Dia tersenyum. Sumpah, kalo dia bukan klien gue, udah gue cubit-cubitin pipinya saking gemes.
"Ya, gak apa-apa. Ramon, kamu mau cerita apa? Nggak usah grogi, pake bahasa kamu aja."
"Aku udah lama suka sama seseorang." Ramon diam sebentar. "Dari TK sampe kuliahpun aku cuma mikirin dia. Dia itu cakep, berprestasi. Dia idola aku." Ramon menunduk.
"Terus? apa dia tahu perasaan kamu?"
"Dia nggak pernah tahu, dan aku nggak pernah cerita sama dia. Aku takut dia bakalan jijik sama aku." Ramon masih nunduk. Denger-denger kata 'jijik' pikiranku langsung menuju kata ******. Masak seh dia itu...?
"Lagian, dari TK sampe kuliah banyak anak yang suka sama dia. Dia nggak pernah sendiri. Mantan pacarnya udah nggak keitung. Walaupun dia bukan plyboy, tapi masalah cewek ia nggak bakalan kalah dari casanova. Dia pernah bilang kalo belum ada yang cocok aja. Tapi, tapi, aku sama sekali nggak punya peluang untuk lebih dekat lagi sama dia. Aku masih punya harga diri sebagai cowok. Anye ngerti maksud aku kan?" Lagi-lagi gw cuma ngangguk.
Dan, setelah itu percakapan bla-bla-bla-bala berlangsung selama satu jam lamanya. gw nggak mungkin sanggup nulisin semua curhatannya di notes ini. Intinya dia tuh lagi fall in love sampe karatan. Basi sih, tapi apa boleh buat ioni klien pertama gue sih.
Sampai disana Anye berhenti. Ia menarik nafas dalam-dalam lagi. Memandnagi langit-langit kamar kosannya yang suram. 0 komentar Diposting oleh ZU_Cute di 07.32
Langganan:
Postingan (Atom)
